Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) RI dr. Benjamin Paulus Octavianus mengapresiasi inovasi pelayanan kesehatan Pemkab Banyuwangi yang dinilai layak jadi percontohan nasional. Mulai dari layanan jemput bola merawat warga (home care) yang sejak 2018 hingga pemanfaatan dashboard kesehatan real time di puskesmas.
“Kita sangat bersyukur apa yang dilakukan di Banyuwangi diapresiasi oleh Wamenkes. Ini akan menjadi pemacu kita untuk terus mengembangkan layanan yang baik,” kata Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, Selasa (27 Oktober 2026).
Apresiasi tersebut disampaikan Benjamin saat melakukan kunjungan kerja ke Banyuwangi pada 24–25 Oktober 2026. Wamenkes melihat langsung pelayanan di Puskesmas Kabat serta memimpin apel kesiapan program Jemput Bola Rawat Warga (Jempol Raga) di Taman Blambangan, Minggu (25 Oktober 2026).
Menurut Wamenkes, Banyuwangi dinilai telah mengembangkan layanan kesehatan yang tidak hanya mengobati orang sakit, tetapi juga aktif mencegah penyakit.
Baca Juga : Tak Hanya Angkut Penumpang, KAI Daop 9 Jember Beri Layanan Kesehatan dan Literasi di Singojuruh

Saat mengunjungi Puskesmas Kabat, perhatian Benjamin tertuju pada dashboard kesehatan Simpus Wangi yang menampilkan data kunjungan masyarakat secara real time. Melalui dashboard tersebut, petugas dapat memantau jumlah warga yang datang ke puskesmas, baik dalam kondisi sakit maupun sehat, termasuk capaian Cek Kesehatan Gratis (CKG) berdasarkan kelompok usia.
“Super bagus. Saya sudah keliling Indonesia. Baru di sini yang punya dashboard kesehatan real time di setiap puskesmas. Sehingga kita tahu berapa kunjungan ke Puskesmas, berapa yang sakit, dan berapa orang sehat yang datang. Dan ternyata lebih banyak orang sehat yang datang. Artinya program promotif preventifnya sudah jalan. Sangat membanggakan,” ujar Benjamin.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa puskesmas di Banyuwangi tidak hanya menjadi tempat berobat, tetapi juga berperan sebagai pusat pencegahan dan deteksi dini penyakit. Pemanfaatan data secara real time juga membantu pemerintah memetakan kebutuhan layanan kesehatan masyarakat.
Benjamin menilai, upaya Banyuwangi menjadikan Puskesmas sebagai Mal Orang Sehat yang dirintis sejak 2018 yang membangun budaya pemeriksaan kesehatan sejak dini ini sejalan dengan tujuan program CKG.
“Program prioritas Presiden, Cek Kesehatan Gratis, baru mulai tahun lalu. Ternyata di Banyuwangi sudah dimulai sejak 2018,” ungkapnya.
Baca Juga : Kemenkes Ungkap 9 dari 10 Warga Depresi Belum Terjangkau Medis: Cek 5 Temuan Penting Kesehatan Gratis

Tak hanya itu, Benjamin juga menyoroti program Jempol Raga (jemput bola rawat warga) dimana petugas kesehatan rutin memeriksa pasien ke rumahnya. Ia menyebut Banyuwangi mampu mengintegrasikan pelayanan kesehatan hingga menjangkau masyarakat yang memiliki keterbatasan akses.
“Saya sudah keliling ke 29 provinsi dan lebih 150 kabupaten kota se-Indonesia. Ini (layanan home care oleh puskesmas) baru pertama kali saya lihat di Banyuwangi,” katanya.
Baca Juga : Dinkes Kabupaten Madiun Temukan 1.200 Kasus TBC, Hampir 30 Persen Dialami Anak
Benjamin berharap berbagai inovasi yang dijalankan Banyuwangi dapat menjadi inspirasi memperkuat pelayanan kesehatan primer, pencegahan penyakit, dan pemerataan akses layanan.
Ia juga mengapresiasi capaian CKG di Banyuwangi yang hingga saat ini telah menjangkau 779.635 warga. “Kenapa Kabupaten Banyuwangi punya CKG tinggi dan bagus? Karena sudah terbiasa menolong warga,” ujar Benjamin.
Sementara itu, Bupati Ipuk menjelaskan, pemkab terus memperkuat layanan kesehatan yang mengutamakan pencegahan sekaligus memastikan warga yang membutuhkan pengobatan dapat terlayani dengan baik.
Baca Juga : Sambut Hari Santri, Puluhan Ribu Santri Banyuwangi Ikuti Kegiatan Cek Kesehatan Gratis

Melalui program Mal Orang Sehat, masyarakat didorong memanfaatkan puskesmas untuk pemeriksaan rutin, konsultasi gizi, pengecekan tekanan darah dan gula darah, pengukuran berat serta tinggi badan, hingga edukasi pola hidup sehat dan pencegahan penyakit.
Sementara melalui Jempol Raga, petugas puskesmas mendatangi rumah warga, khususnya lansia, penyandang disabilitas, warga kurang mampu, serta pasien dengan penyakit menahun atau keterbatasan mobilitas.
“Setidaknya dalam lima tahun terakhir ada 50 ribu kunjungan rutin petugas ke rumah hingga ke pelosok-pelosok, terutama bagi warga kurang mampu dan lansia,” ujar Ipuk.
Handoko Khusumo
Editor : JTV Banyuwangi























